This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 14 September 2021

MANAJEMEN TERPADU BALITA MUDA (MTBM)

 


MANAJEMEN TERPADU BALITA MUDA (MTBM)


Kematian anak di Indonesia sering dijumpai pada usia neonatal atau bayi muda. Rasionya 19 per 1000 anak meninggal pada usia neonatal-bayi muda. Bayi muda adalah bayi berusia 1 hari – 2 bulan. Pada usia ini, bayi sangatlah rentan terserang penyakit. Sekali terkena akan sangat cepat mengalami perburukan bahkan kematian jika tidak mendapat penanganan yang tepat dan segera. Berbagai upaya terus dilakukan di berbagai negara untuk meningkatkan angka harapan hidup pada rentang usia ini. Mulai dari WHO, Kemenkes, dan berbagai organisasi kesehatan anak lainnya membuat panduan dalam upaya peningkatan angka harapan hidup anak. Di Indonesia sendiri sudah dibentuk peraturan mentri kesehatan dalam manajemen terpadu bayi muda atau yang dikenal dengan MTBM.


Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) merupakan suatu pendekatan yang terpadu dalam tatalaksana bayi umur 1 hari – 2 bulan, baik yang sehat maupun yang sakit, baik yang datang ke fasilitas rawat jalan maupun yang dikunjungi oleh tenaga kesehatan pada saat kunjungan neonatal.


Pada Permenkes RI Nomor 70 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan manajemen terpadu balita sakit berbasis masyarakat, disebutkan bahwa pada bayi muda usia 0 – 2 bulan harus mendapatkan 4 macam pelayanan yang termsuk dalam MTBS-M:


Perawatan esensial bayi baru lahir

Pengenalan tanda bahaya bayi baru lahir dan persiapan rujukan bila memang diperlukan

Penatalaksanaan bayi berat lahir rendah (BBLR)

Penatalaksanaan infeksi pada bayi baru lahir

Keempat pelayanan ini diberikan tidak hanya sesaat setelah lahir saja, namun hingga bayi mencapai usia 2 bulan bila suatu waktu mengalami keluhan tertentu yang termasuk dalam 4 pelayanan tadi wajib segera ditindaklanjuti.


Manajemen standar pada bayi muda dilakukan minimal 3 kali pada 6 – 24 jam, 3 – 7 hari, dan 8 – 28 hari setelah melahirkan. Sebagian besar bayi hanya memerlukan perawatan sederhana pada saat dilahirkan, yaitu diberikan kehangatan, jalan napas dibersihkan, dikeringkan, dan dinilai warna untuk menentukan kondisi serta perlu tidaknya dilakukan rujukan.


Pada bayi baru lahir jagalah bayi supaya tetap kering di ruangan yang hangat, hindarkan aliran udara, selimuti dengan baik. Bila tidak ada kondisi bahaya pada bayi dan ibu telah cukup stabil bayi bisa tetap bersama ibunya (rawat gabung). Lakukan inisiasi menyusui dini dalam jam pertama kehidupan. Jika mampu mengisap, biarkan bayi minum ASI sesuai permintaan. Jangan lupa untuk selalu menjaga tali pusar tetap bersih dan kering.


Selain itu beberapa obat, vitamin, maupun vaksin diberikan juga pada bayi yang baru lahir, antara lain: memberikan tetrasiklin salep mata pada kedua mata satu kali. Berikan juga vitamin K1 (fitomenadion) 1 mg intramuskular (IM) di paha kiri, dan vaksin hepatitis B 0.5 mL IM di paha kanan sekurangnya 2 jam sesudah pemberian vitamin K1. Jika bayi lahir di rumah sakit, beri imunisasi BCG intrakutan dan vaksin polio oral 2 tetes ke mulut bayi saat akan pulang dari rumah sakit.


Tanda Bahaya Pada Bayi Baru Lahir dan Bayi Muda


Tanda dan gejala adanya penyakit atau gangguan pada bayi baru lahir dan bayi muda sering tidak spesifik. Tanda ini bisa dijumpai pada saat atau sesudah bayi lahir, saat bayi baru lahir datang atau saat perawatan di rumah sakit. Berikut adalah beberapa tanda yang dikategorikan bahaya jika ditemukan pada bayi baru lahir ataupun bayi muda:


Tidak bisa menyusu

Kejang

Mengantuk atau tidak sadar

Frekuensi napas < 20 kali/menit atau apnu (pernapasan berhenti selama >15 detik)

Frekuensi napas > 60 kali/menit

Merintih dan terlihat tarikan dada bawah ke dalam yang kuat

Sianosis sentral.

Pada bayi muda, dianjurkan untuk melakukan kunjungan atau kontrol ke fasilitas pelayanan kesehatan minimal 3 kali (6-24 jam, 3-7 hari, dan 8-28 hari setelah melahirkan). Pada tiap kunjungan bayi muda ke rumah sakit perlu dilakukan beberapa pemeriksaan. Pada kunjungannya yang pertama biasanya dilakukan pemeriksaan atau skrining awal. Pada kunjungan berikutnya ada dilakukan pemeriksaan ulang sekaligus follow up kondisi bayi. Berikut adalah pemeriksaan yang dilakukan saat kunjungan bayi muda ke fasilitas pelayanan kesehatan:


Periksa kemungkinan adanya penyakit sangat berat atau infeksi bakteri, untuk kemudian diklasifikasikan sesuai tanda dan gejalanya

Tanda atau Gejala Klasifikasi

Tidak mau minum atau memuntahkan semua ATAU

Riwayat kejang ATAU

Bergerak hanya jika distimulasi ATAU

Napas cepat ATAU

Napas lambat ATAU

Tarikan dinding dada ke dalam yang kuat ATAU

Merintih ATAU

Demam (≥ 37,5C) ATAU

Hipotermi ( <35,5C) ATAU

Nanah yang banyak di mata ATAU

Pusar kemerahan meluas sampai dinding perut

PENYAKIT SANGAT BERAT ATAU INFEKSI BAKTERI BERAT

Pustul kulit ATAU

Mata bernanah ATAU

Pusat kemerahan atau bernanah

INFEKSI BAKTERI LOKAL

Tidak terdapat salah satu tanda diatas

MUNGKIN BUKAN INFEKSI

Menanyakan ibu apakah bayi muda mengalami diare dan tentukan derajat dehidrasinya

Tanda dan Gejala Klasifikasi

Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :

Letargis atau tidak sadar

Mata Cekung

Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat

DIARE DEHIDRASI BERAT

Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :

Gelisah atau rewel

Mata Cekung

Cubitan kulit perut kembali lambat

DIARE DEHIDRASI RINGAN /SEDANG

Tidak cukup tanda dehidrasi berat atau ringan/sedang DIARE TANPA DEHIDRASI

Periksa adanya ikterus pada bayi, menggunakan metode KRAMER

Kramer I : kuning pada daerah kepala dan leher

Kramer 2 : kuning sampai dengan badan bagian atas (dari pusar ke atas)

Kramer 3 : kuning sampai badan bagian bawah hingga lutut atau siku

Kramer 4 : kuning sampai pergelangan tangan dan kaki

Kramer 5: kuning sampai daerah tangan dan kaki

Tanda dan Gejala Klasifikasi

Timbul kuning pada hari pertama (< 24 jam) ATAU

Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari ATAU

Kuning sampai telapak tangan /telapak kaki ATAU

Tinja berwarna pucat

IKTERUS BERAT

Timbul kuning pada umur ≥ 24 jam sampai ≤ 14 hari dan tidak sampai telapak tangan/kaki

IKTERUS

Tidak kuning

TIDAK ADA IKTERUS

Periksa adanya kemungkinan berat badan rendah atau masalah pemberian ASI.

Bila ditemukan bayi memiliki berat badan rendah, langsung lakukan penanganan atau rujukan tanpa melihat ada/ tidaknya masalah pada pemberian ASI

Tanyakan dan tentukan status imunitas bayi muda, serta status pemberian Vit.K1.

Imunisasi pertama kali yang harusnya didapatkan oleh bayi muda adalah Hb 0 pada hari 0-7 kelahiran. Selain itu bayi juga harus mendapatkan imunisasi BCG dan polio setelah lahir

Tanyakan adanya masalah lain seperti kelainan kongenital, trauma lahir, ataupun perdarahan tali pusat

 Tanyakan adanya keluhan atau penyakit bayi yang disadari oleh ibu

TATALAKSANA KEDARURATAN tanda bahaya:


Beri oksigen melalui nasal prongs atau kateter nasal jika bayi muda mengalami sianosis atau distres pernapasan berat.

Beri VTP dengan balon dan sungkup, dengan oksigen 100% (atau udara ruangan jika oksigen tidak tersedia) jika frekuensi napas terlalu lambat (< 20 kali/menit).

Jika terus mengantuk, tidak sadar atau kejang, periksa glukosa darah. Jika glukosa < 45 mg/dL koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg BB dekstrosa 10% (2 ml/kg BB) IV selama 5 menit, diulangi sesuai keperluan dan infus tidak terputus (continual) dekstrosa 10% dengan kecepatan 6-8 mg/kg BB/menit harus dimulai. Jika tidak mendapat akses IV, berikan ASI atau glukosa melalui pipa lambung.

Beri fenobarbital jika terjadi kejang

Beri ampisilin (atau penisilin) dan gentamisin jika dicurigai infeksi bakteri berat.

Rujuk jika pengobatan tidak tersedia di rumah sakit ini.

Pantau bayi dengan ketat.

Rujukan dilakukan berdasarkan status warna pada kondisi bayi sebelumnya. Jika termasuk dalam warna merah/ kondisi berat bisa langsung dilakukan perujukan bila tidak tersedia pengobatan di faskes sebelumnya. Selain itu rujukan biasanya dilakukan jika kasus yang dijumpai berupa keracunan dengan penurunan kesadaran, luka bakar di mulut dan tenggorokan, sesak napas berat, sianosis, dan gagal jantung.


SUMBER


American Academy of Pediatric and American Heart Association Guidelines fo Neonatal Resuscitation, 2015, NRP Pocket Card -7th Edition

WHO, 2014, Comprehensive Implementation Plan on Maternal, Infant, and Young Child Nutrition, Geneva, Switzerland

WHO, 2013, Pocket of Hospital Care for Children: Guidelines for The Management of Common Childhood Illnesses 2nd ed, Malta

Permenkes RI No. 70 tahun 2013, Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat

WHO, Guidelines on MATERNAL, NEWBORN, CHILD AND ADOLESCENT HEALTH: Recomendations on Newborn He

Minggu, 12 September 2021

ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN

 

ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN




Jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :

1. Caput Suksadenum

Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.

Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.

2. Sefalhematoma

Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.

3. Trauma pleksus brakialis

Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.

Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.

Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.

4. Fraktur klavikula

Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.

5. Fraktur humerus

Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.

Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.


Untuk Power Point silahkan download pada link berikut https://docs.google.com/presentation/d/1CBTmkzKgeTzM8Rr6Jf6VQVI_fuNOMvL3/edit?usp=sharing&ouid=107173603295787655494&rtpof=true&sd=true 

 

Senin, 19 Oktober 2020

RUJUKAN DAN TRANSPORTASI BAYI BARU LAHIR


RUJUKAN DAN TRANSPORTASI BAYI BARU LAHIR



  1. Kasus yang termasuk ke dalam kelompok bayi baru lahir dengan komplikasi sakit berat, yaitu:
    1. Penyakit sangat berat
      • Infeksi berat / Sepsis
      • Kejang
      • Gangguan Nafas Berat
      • Hipotermia Berat
         
    2. Bayi Kuning
      • Ikterus Patologis
         
    3. Asfiksia atau Asfiksia tidak teratasi
    4. BB lahir < 2000 g ATAU BB lahir < 2500 g dengan komplikasi
    5. Bayi baru lahir dengan kelainan kongenital
    6. Diare / Dehidrasi
      • Dehidrasi Berat
         
  2. Kasus yang termasuk ke dalam kelompok bayi baru lahir dengan komplikasi sakit sedang, yaitu:
    1. Hipotermia Ringan
    2. Berat badan tidak naik, masalah menetek
    3. BBLR dengan BB lahir > 2000 gram tanpa komplikasi
       
  3. Kasus yang termasuk ke dalam kelompok bayi baru lahir dengan komplikasi sakit ringan, yaitu:
    1. Infeksi bakteri lokal
      • Ompalitis Ringan
      • Konjungtivitis Ringan
      • Infeksi Kulit Ringan

Rabu, 14 Oktober 2020

PANDANGAN ISLAM DAN AL-QURAAN TENTANG PERILAKU HIDUP SEHAT

 


PANDANGAN ISLAM DAN AL-QURAAN TENTANG PERILAKU HIDUP SEHAT




Salah satu ayat dalam Al-Qur’an telah menerangkan bagaimana pola hidup sehat dengan menjaga kebersihan. Hal ini tertera dalam surat Al-Baqarah ayat 222:  


   Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Ayat di atas menerangkan bahwasannya Allah menyuruh umatnya untuk menjaga kebersihan, karena Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Dengan mensucikan diri dengan menjaga kebersihan akan menciptakan lingkungan yang sehat dan hidup yang bersih. Dengan demikian akan mempengaruhi pula pada kehidupan manusia, yakni terciptanya lingkungan yang bersih serta hidup yang sehat.

Seseorang dikatakan sehat bisa ditinjau dari segi fisik maupun psikis. Sehat dari segi fisik dapat dilihat dari bentuk 4 tubuhnya yang segar bugar dan mampu melakukan berbagai aktifitas. Sedangkan, seseorang dikatakan sehat secara psikis dapat diketahui bagaimana jiwa orang tersebut berfikir dengan baik dan bertindak secara realistis. Dalam hal ini kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh badan yang sehat dan lingkungan yang bersih, untuk menjaga pola hidup yang sehat yang nantinya memberikan pengaruh positif bagi kesehatan seseorang. Begitu juga sebaliknya jika seseorang kurang memperhatikan kesehatan dan kebersihan lingkungan maka dampak yang akan terjadi adanya berbagai virus atau penyakit yang akan menyerang tubuh sehingga ia tidak lagi merasakan kesehatan. 

Oleh karena itu, seseorang perlu menjaga gaya hidupnya dengan baik dan teratur untuk mendapatkan hidup sehat. Sebagai contoh gaya hidup orang sekarang yang disebut sebagai gaya hidup pragmatisme (gaya hidup serba instan), yakni seseorang lebih menyukai hal-hal yang praktis, tidak repot dan cepat saji. Gaya hidup yang demikian misalnya mengonsumsi makanan siap saji (fast food, soft drink), penggunaan bumbu penyedap msg yang mengandung bahan kimiawi sintetis, tidak baik bagi kesehatan, kandungan bahan pengawetnya sedikit demi sedikit akan menumpuk dalam tubuh dan menimbulkan penyakit di kemudian hari.

Penjelasan mengenai pandangan Islam dan Al-qur'an tentang perilaku hidup sehat bisa di download pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1CDaxN5Qtl999F_vTd9EyxkL6ZsJ9fjdq/view?usp=sharing

Selasa, 22 September 2020

MACAM PEMBERIAN OBAT

 MACAM PEMBERIAN OBAT


Obat  adalah semua zat baik dari alam (hewan maupun tumbuhan) atau kimiawi yang dalam takaran (dosis) yang  tepat atau layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit atau gejala-gejalanya.

Tujuan Pemberian Obat

》Untuk menghilangkan rasa nyeri yang dialami klien.
》Obat topikal pada kulit memiliki efek yang lokal
》Efek samping yang terjadi minimal
》Menyembuhkan penyakit yang diderita oleh klien 

Adapun  Cara pemberian obat didasarkan pada bentuk obat, efek  yang diinginkan baik fisik maupun mental. Diantaranya :


Oral: Pemberian obat melalui mulut merupakan cara paling mudah dan paling sering digunakan. Obat yang digunakan biasanya memiliki onset yang lama dan efek yang lama.

Parenteral : Pemberian obat melalui perenteral merupakan pemberian obat melalui jaringan tubuh.pemberian obat parenteral, merupakan pilihan jika pemberian obat dari mulut merupakan ktrak indikasi.

Topical : Obat diberikan pada kulit atau mukosa. Obat-obat yang diberikan biasanya memiliki efek lokal, obat dapat di oleskan pada areah yang diobati  atau medicated baths. Efek sistematik dapat timbul jika kulit klien tipis.

Inhalasi :Jalan nafas memberikan tempat yang luas untuk absorrsi obat, obat diinhalasi melalui mulut atau pun hidung.

Untuk lebih jelas silahkan download dan pelajari power point pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1nn0CHvcrYUz3Tud5HUPI-GgGfEVI_vrT/view?usp=sharing

PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE

 PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE



Pemeriksaan Fisik adalah pemeriksaan yang dilakukan tenaga kesehatan kepada klien dari ujung rambut sampai ujung kaki guna mengetahui kesehatan klien apakah dalam keadaan baik atau ada masalah.

APA SAJA YANG DILAKUKAN PADA SAAT PEMERIKSAAN FISIK :

1. ANAMNESE, Yaitu tanya jawab seputar keluhan klien, dan riwayat-riwayat penyakit klien, kebiasaaan/gaya hidup klien

2. Pemeriksaan Tanda-tanda vital

3. Pemeriksaan Fisik

4. Pemeriksaan Tambahan

Pada dasarnya pemeriksaan fisik akan meliputi:

Inspeksi: melihat adakah kelainan pada organ tubuh yang hendak diperiksa.

Palpasi: menyentuh dengan teknik tertentu untuk memeriksa adakah benjolan, tulang yang patah, atau kelainan lainnya.

Perkusi: tubuh akan mengeluarkan suara tertentu walaupun dalam kondisi normal, misalnya pada paru akan terdengar sonor karena berisi udara, dan pada lambung akan terdengar timpani karena berisi gas. Tujuan pemeriksaan ini adalah mendeteksi adakah cairan atau massa pada tubuh seseorang, contohnya jika paru-paru ketika diketuk malah terdengar redup, maka kemungkinan adanya massa pada organ tersebut.

Auskultasi: pada pemeriksaan ini dibutuhkan stetoskop untuk mendengarkan adakah kelainan pada organ, seperti pada pemeriksaan jantung, paru-paru, dan lambung.

Silahkan download powerpoint dan pelajari https://drive.google.com/file/d/14bkTOAf9wRtK0jQjtimBaG4rrJyPqYQK/view?usp=sharing






Senin, 21 September 2020

PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL

 PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL

1. Pemeriksaan Tekanan Darah


2. Pemeriksaan Suhu Badan



3. Pemeriksaan Pernafasan


4. Pemeriksaan Nadi


Untuk Penjelasan Lebih Lengkap silahkah download powerpoint dan pelajari pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1W1oHfsqCtIT73UHWCqbtiBZU0Y4uX3Ia/view?usp=sharing

Selasa, 15 September 2020

IMUNISASI LANJUTAN DAN JENIS IMUNISASI LAINNYA YANG PENTING UNTUK ANAK

IMUNISASI LANJUTAN DAN JENIS IMUNISASI LAINNYA YANG PENTING UNTUK ANAK




Vaksin atau imunisai adalah cara pencegahan penyakit yang bisa menyebabkan kecacatan dengan cara membentuk kekebalan atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit tertentu. Selain imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi usia 0 - 12 bulan, terdapat imunisasi lanjutan dan jenis imunisasi lainnya yang bisa diberikan kepada balita. 

Apa saja yang termasuk kedalam jenis imunisasi lanjutan?

Usia 18-24 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan campak/MR

Usia 6—7 tahun: 1 dosis campak dan DT

Usia 7—11 tahun: 1 dosis Td

Apa sih imunisasi ulangan (booster) dan kegunaannya buat apa?

Imunisasi bertujuan memberikan antibodi bagi anak. Setelah imunisasi, antibodi anak akan meningkat. Tetapi suatu saat antibodi tersebut akan turun lagi, sehingga harus diberikan imunisasi ulangan (booster). Tujuannya agar antibodi akan meningkat kembali sehingga anak tidak mudah terserang penyakit.

Gimana jika saya terlambat melakukan imunisasi lanjutan atau bahkan tidak mengulang? Apakah vaksin sebelumnya menjadi sia-sia terhadap anak saya?

Imunisasi sebaiknya tetap diberikan sekalipun tidak sesuai jadwal pemberian karena artinya bayi atau anak tersebut belum mempunyai kekebalan terhadap penyakit tersebut. Tetapi, jika umurnya sudah terlewat jauh beberapa tahun, untuk beberapa penyakit tertentu mungkin menjadi kurang penting, karena kemungkinan tertular semakin kecil. Untuk itu perlu konsultasi dengan dokter untuk mengejar imunisasi yang terlewat.

Apakah dengan imunisasi lengkap (termasuk booster) anak bisa dipastikan tidak terkena virus?

Bayi atau anak yang telah diimunisasi masih dapat tertular penyakit, namun dampaknya akan jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alami tanpa imunisasi. 

Kalau untuk Imunisasi tambahan apa saja?


- 2 bulan : PCV 1 (untuk mencegah meningitis, pneumonia, sepsis)

- 4 bulan : PCV 2

- 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1

- 7 bulan : Influenza 2

- 12-15 bulan : PCV 4


Selain imunisasi yang termasuk dalam program imunisasi nasional dari Kementrian Kesehatan, ada pula sederet vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaitu: PCV, rotavirus, influenza, tifus, hepatitis A, varisela, HPV, Japanese encephalitis, dan dengue.penjelasan mengenai macam jenis imunisasi tambahan dan imunisasi lainnya bisa di download dipelajari pada link berikut https://drive.google.com/file/d/15UJ7hg20TRoB3544ullimKMsj14s8FQe/view?usp=sharing

Minggu, 13 September 2020

IMUNISASI DASAR PADA BAYI

 IMUNISASI DASAR PADA BAYI 




Imunisasi dasar yang wajib diberikan kepada bayi usia 0-12 bulan menurut anjuran pemerintah terdiri dari beberapa jenis imunisasi, diantara nya :

1. BCG mencegah penyakit TBC 

2. DPT mencegah penyakit dipteri, batuk rejan, tetanus 

3. POLIO mencegah penyakit polio 

4. HEPATITIS B mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning)

5. CAMPAK mencegah penyakit penyakit campak

6. HiB mencegah penyakit radang selaput otak (meningitis), pneumonia, radang selaput pendengaran atau telinga


power point dapat di download pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1Gq39asokDKGxwzY87lMYSoKEPGA7qNk3/view?usp=sharing



STIMULASI, DETEKSI, INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK)

 STIMULASI, DETEKSI, INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK)



Masa depan suatu bangsa tergantung pada keberhasilan anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tahun-tahun pertama kehidupan, terutama periode sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun merupakan periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Periode ini merupakan kesempatan emas sekaligus masa-masa yang rentan terhadap pengaruh negatif.

Nutrisi yang baik dan cukup, status kesehatan yang baik, pengasuhan yang benar, dan stimulasi yang tepat pada periode ini akan membantu anak untuk tumbuh sehat dan mampu mencapai kemampuan optimalnya sehingga dapat berkontribusi lebih baik dalam masyarakat.

Stimulasi yang tepat akan merangsang otak balita sehingga perkembangan kemampuan gerak, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita berlangsung optimal sesuai dengan umur anak. Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang perlu dilakukan untuk dapat mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya. 

Pembahasan mata kuliah kali ini dapat di lihat pada power point berikut dan didownload pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1rFDzOJZgfJ9oskZoEpGRvTt-wY7O36Uv/view?usp=sharing

serta buku pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi, intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) yang diterbitkan oleh kemenkes dapat di download pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1Q9-MQG0_QqAmt3L9dN1rpXTT6_pg8NV_/view?usp=sharing

Kamis, 03 September 2020

MENERAPKAN PENCEGAHAN INFEKSI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN

 MENERAPKAN PENCEGAHAN INFEKSI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN 



DALAM PAKTIK PENCEGAHAN INFEKSI PERTEMUAN INI AKAN MEMBAHAS :

1. ALAT PERLINDUNGAN DIRI

2. PROSEDUR CUCI TANGAN

3. CARA MEMAKAI ALAT PERLINDUNGAN DIRI


Alat Pelindung Diri adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD dipakai setelah usaha rekayasa ( engineering ) dari cara kerja yang aman.


A. ALAT PELINDUNG KEPALA

Berdasarkan fungsinya dapat di bagi 3 bagian :

  • Topi pengaman ( Safety Helmet )

Untuk melindungi kepala dari benturan atau pukulan benda – benda.

  • Topi / tudung

Untuk melindungi kepala dari api, uap – uap korosif, debu, kondisi iklim yang buruk.

  • Tutup kepala

Untuk menjaga kebersihan kepala dan rambut atau mencegah lilitan rambut dari mesin.

Alat pelindung kepala ini dapat dilengkapi dengan alat pelindung diri yang lain, yaitu:

  • Kaca Mata ( gogles )
  • Penutup muka
  • Penutup telinga
  • Respirator, dll

B. ALAT PELINDUNG TELINGA

Alat pelindung telinga ada 2 jenis :

  • Sumbatan telinga ( ear plug )

Sumbat telinga yang baik adalah memakai frekuensi tertentu saja. Sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya tidak terganggu.

  • Tutup telinga (ear muff )

Tutup telinga jenisnya sangat beragam. Tutup telinga mempunyai daya pelindung ( Attenuasi ) berkisar antara 25 – 30 DB. Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dengan sumbat telinga, sehingga dapat mempunyai daya lindung yang lebih besar.


C. SARUNG TANGAN

Sarung tangan melindungi tangan dari bahan infeksius dan melindungi pasien dari mikroorganisme pada tangan petugas. Alat ini merupakan pembatas fisik terpenting untuk  mencegah penyebaran infeksi, tetapi harus diganti setiap kontak dengan satu pasien ke pasien lainnya untuk mencegah kontaminasi silang. Umpamanya, sarung tangan pemeriksaan harus dipakai kalau menangani darah, duh tubuh, sekresi dan eksresi ( kecuali keringat ), alat atau permukaan yang terkontaminasi dan kalau menyentuh kulit nonintak atau selaput lendir.

JENIS SARUNG TANGAN

Ada 3 jenis sarung tangan :

  1. Sarung tangan bedah

Dipakai sewaktu melakukan tindakan invasif atau pembedahan

  1. Sarung tangan pemeriksaan

Dipakai untuk melindungi petugas kesehatan sewaktu melakukan pemeriksaan atau pekerjaan rutin

  1. Sarung tangan rumah tangga

Diapakai sewaktu memproses peralatan, menangani bahan – bahan terkontaminasi, dan sewaktu membersihkan permukaan yang terkontaminasi

Cara Penggunaan Alat Pelindung Diri

Ada berbagai pedoman terkait cara penggunaan alat perlindungan diri (APD), antara lain CDC 2014, WHO  2014, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) 2014, dan Australian NHMRC (National Health and Medical Research Council) 2010.

Berbeda dengan pedoman lainnya, menurut ECDC 2014, penggunaan APD harus ditambah dengan pemberian plester di pergelangan sarung tangan, bagian yang terbuka di sepatu boot, dan bagian tepi goggles untuk memastikan tidak ada bagian yang terbuka. WHO menyatakan bahwa penggunaan plester tidak diperlukan apabila ukuran APD sudah sesuai dan tidak ada celah antara baju pelindung dengan sarung tangan atau sepatu boot. Penggunaan plester yang terlalu banyak membuat proses pemakaian (donning) menjadi lama, sulit saat melepaskan, serta berisiko merusak sarung tangan atau baju pelindung saat melepaskan plester.[7,10,11]

Pedoman WHO 2014 menganjurkan penggunaan sarung tangan ganda ketika melakukan prosedur berisiko tinggi atau akan melakukan kontak dengan cairan tubuh pasien. Selama kontak dan melakukan prosedur pada pasien, seluruh atribut APD tidak boleh dilepas, kecuali mengganti sarung tangan bagian luar. Sarung tangan luar dapat diganti segera setelah melakukan satu prosedur medis dengan kontaminasi yang signifikan. Tenaga medis harus segera melepaskan APD di area doffing apabila terkena cairan tubuh atau darah dalam jumlah signifikan, serta bila ditemukan adanya robekan pada sarung tangan atau bagian lengan yang tidak tertutupi oleh sarung tangan.[5,7]

Teknik Penggunaan Alat Pelindung Diri

Saat melakukan prosedur pemakaian alat pelindung diri (APD), perlu ada seorang petugas terlatih yang melakukan supervisi prosedur sesuai protokol dan juga seorang asisten yang membantu memakaikan atribut tertentu. Berikut ini prosedur penggunaan (donning) APD:

  1. Sebelum menggunakan alat pelindung diri, petugas melepaskan seluruh perhiasan yang dikenakan termasuk jam tangan. Petugas yang berambut panjang harus mengikat rambut. Petugas yang berkacamata harus melekatkan kacamata supaya tidak jatuh
  2. Inspeksi kondisi alat pelindung diri, memastikan ukurannya sesuai dengan tubuh petugas dan tidak ada kerusakan pada alat
  3. Lakukan cuci tangan (hand hygiene)
  4. Kenakan sepatu Lalu, pasang boot cover, ikat tali yang melingkari boot cover. Usahakan tangan tidak menyentuh lantai. Tahap ini sebaiknya dikerjakan dalam posisi duduk
  5. Kenakan sarung tangan (dalam)
  6. Kenakan baju pelindung dan buat agar lengan baju menutupi pergelangan sarung tangan dalam. Pastikan semua bagian lengan sarung tangan masuk di bawah lengan baju pelindung. Pakaikan plester di pergelangan tangan apabila masih ada celah antara baju dengan sarung tangan
  7. Kenakan masker N95. Pastikan seluruh bagian tepi menyesuaikan bentuk wajah sehingga tidak ada celah.
  8. Kenakan hood, pastikan bagian telinga dan leher tertutup dan tidak ada rambut yang keluar. Bagian bawah hood harus menutupi kedua bahu. Asisten dapat membantu proses pemakaian
  9. Kenakan apron (tidak wajib) apabila menangani pasien dengan gejala muntah dan diare
  10. Kenakan sarung tangan luar yang biasanya memiliki pergelangan lebih panjang. Tarik bagian lengan sarung tangan hingga menutupi bagian lengan baju pelindung. Penggunaan sarung tangan yang berbeda warna dengan sarung tangan dalam dapat membantu identifikasi
  11. Kenakan pelindung wajah (face shield)
  12. Evaluasi kelengkapan dan kesesuaian penggunaan alat pelindung diri menggunakan bantuan cermin, ditambah dengan verifikasi oleh petugas donning[5,12]

Teknik Melepaskan Alat Pelindung Diri

Berdasarkan pedoman WHO, prosedur melepaskan alat pelindung diri sesuai urutan adalah sebagai berikut:

  1. Lakukan cuci tangan (hand hygiene) dengan tetap menggunakan sarung tangan
  2. Robek apron di bagian leher kemudian gulung ke bagian depan dan bawah. Hindari tangan menyentuh bagian coverall di belakang
  3. Lakukan cuci tangan. Cuci tangan dilakukan setiap selesai melepaskan 1 jenis atribut alat pelindung diri
  4. Lepaskan pelindung kepala-leher (bila hood terpisah dari baju pelindung) dengan cara menarik bagian atas penutup kepala. Bila menggunakan coverall kepala-mata kaki, buka terlebih dahulu resleting di bagian dada, kemudian lepaskan hoodie ke arah belakang secara perlahan dengan cara menggulung bagian dalam menjadi bagian luar. Hindari menyentuh bagian luar coverall

  5. Setelah coverall terlepas melewati bahu hingga pertengahan siku, tarik lengan perlahan agar coverall terlepas bersama dengan sarung tangan luar. Teruskan membuka dan menggulung coverall dengan tetap menggunakan sarung tangan dalam, hingga terlepas seluruhnya dari bagian kaki
  6. Lakukan cuci tangan kembali (terus dilakukan setiap selesai melepaskan 1 jenis atribut)
  7. Lepaskan pelindung mata dengan memegang tali di bagian belakang
  8. Lepaskan masker dengan menarik bagian tali bawah di belakang melewati kepala ke bagian depan. Dilanjutkan dengan melepaskan tali bagian atas
  9. Lepaskan boot cover. Lalu, lepaskan sepatu boot tanpa menyentuh dengan tangan
  10. Lepaskan sarung tangan dalam
  11. Lakukan cuci tangan di akhir prosedur
Penjelasan pada power point dapat di download pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1lbog5Y-nF8rHdVOQWI_NefZvOkaOitL2/view?usp=sharing

ALAT

MENGENAL ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM PRAKTIK KEBIDANAN DAN FUNGSINYA



Bidan adalah seorang tenaga kesehatan yang secara khusus menangani ibu – ibu yang sedang mengandung atau hendak melahirkan, oleh karenanya dirinya dituntut untuk menguasai berbagai macam alat kebidanan. Seperti halnya dokter, seorang bidan juga harus menguasai ilmu – ilmu yang akan menjadi penuntun dirinya dalam menangani seorang pasien. Di saat dirinya menempuh pendidikan, dirinya juga akan dibekali dengan pengenalan dan praktek penggunaan alat kebidanan.


Bagi masyarakat umum, mungkin banyak alat yang terdengar asing, meski beberapa sudah cukup familiar. Setiap alat kebidanan memiliki nama dan fungsinya sendiri – sendiri, dan secara langsung dapat berkaitan erat dengan kondisi pasien, yang dalam hal ini adalah seorang ibu yang sedang mengandung. Alat yang dipakai bidan pada umumnya sedikit berbeda dengan yang dimiliki oleh dokter spesialis kandungan, terutama karena bidan tidak diberikan hak untuk melakukan operasi Caesar dan hanya boleh mendampingi persalinan di tempat prakteknya sendiri. Oleh sebab itu, peralatan yang dimiliki dan digunakan pun cukup sedikit dan sederhana.


  1. Termometer

Ini adalah alat kebidanan yang secara luas juga dipakai oleh tenaga kesehatan yang lain. Bahkan, saat ini masyarakat pun juga sudah banyak yang memilikinya di rumah. Seperti yang kita tahu bersama, thermometer, meski kecil dan terlihat sederhana, memiliki peran yang sangat vital. Thermometer memberi petunjuk tentang temperatur pasien. Tanda – tanda awal kesehatan bisa dapat ditunjukkan oleh alat kecil ini.

  1. Stetoskop

Ini juga merupakan alat kesehatan yang jamak dipakai oleh praktisi kesehatan. Bahkan, masyarakat kita menganggap bahwa alat ini adalah alat yang wajib dimiliki oleh seorang dokter, padahal sebenarnya tidak. Stetoskop ini berfungsi sebagai media untuk memeriksa suara – suara yang berasal dari dalam tubuh, seperti detak jantung, nadi, pernafasan dan lain sebagainya. Normal atau tidaknya detak jantung seseorang dapat diketahui melalui penggunaan stetoskop ini.

  1. Tensimeter

Seorang pasien yang berkunjung ke dokter maupun bidan akan langsung diperiksa tekanan darahnya dengan menggunakan alat ini. Berapa tekanan darah si pasien secara tidak langsung akan menunjukkan bagaimana kondisi kesehatannya.

  1. Fetoskop/Stetoskop Monoaural/Stetoskop Laennec/Linex/Funduscope

Ini adalah alat yang sangat khusus yang biasanya hanya dimiliki oleh seorang bidan atau dokter kandungan. Alat ini berfungsi untuk mendengarkan atau memantau detak jantung janin yang masih berada di dalam rahim.

  1. Doppler

Seperti halnya Fetoskop/stetoskop monoaural, Doppler ini juga berfungsi untuk membantu bidan mendengarkan detak jantung janin. Perbedaanya, Doppler merupakan alat yang bekerja secara elektrik, sehingga tingkat akurasinya diklaim lebih baik daripada stetoskop monoaural.

  1. USG

Alat ini berfungsi untuk membantu bidan mengetahui kondisi atau keadaan terkini dari janin. Ada dua macam alat USG yang banyak dipakai, yakni yang biasa dan 3D. Di banyak klinik dan rumah sakit, USG 3D sudah banyak dipakai. USG 3 dimensi diklaim dapat menampilkan gambar janin yang lebih jelas dan detail sehingga kondisinya dapat diketahui dengan lebih jelas. Namun, tidak semua bidan praktek memiliki alat USG ini, terutama bidan yang berpraktek di desa – desa karena alat USG ini terbilang cukup mahal.

Peralatan Bidan Yang Lain

Selain peralatan – peralatan di atas, masih ada pula beberapa beberapa alat kebidanan lain yang hanya biasa dipakai oleh seorang bidan dalam melaksanakan tugasnya membantu persalinan, yaitu:

  1. Gunting tali pusar. Fungsinya untuk memotong tali pusar bayi yang baru lahir.
  2. Gunting episiotomi, alat kebidanan yang berfungsi untuk memotong bagian perineum jika perineum ibu yang melahirkan kaku.
  3. Klem tali pusar yang dipakai untuk menjepit tali pusar bayi
  4. Suction pump yang berfungsi untuk menyedot lender atau cairan yang ada di dalam saluran pernafasan bayi.
  5. Kateter yang fungsinya adalah untuk membantu pengeluaran urine
  6. Benang CatGut yang dipakai untuk menjahit luka
  7. Baby scale yang berfungsi untuk menimbang berat badan bayi
  8. Haemometer atau HB Sahli yang dipakai untuk mengukur hemoglobin dalam darah
  9. Pinset anatomi yang dipakai untuk membantu penjahitan luka
  10. Jarum hecting yang dipakai untuk proses penjahitan luka
  11. Serta handscoon atau sarung tangan, yaitu salah satu peralatan bidan yang dipakai untuk menjaga kesterilan tangan bidan atau tenaga medis yang sedang bekerja.
Untuk lebih jelas silahkan download power point dan dapat dipelajari pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1sHiwTY6AaIM3Bv-KLz6YdRZtTRcnHjeN/view?usp=sharing