MACAM PEMBERIAN OBAT
Selasa, 22 September 2020
MACAM PEMBERIAN OBAT
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE
Pemeriksaan Fisik adalah pemeriksaan yang dilakukan tenaga kesehatan kepada klien dari ujung rambut sampai ujung kaki guna mengetahui kesehatan klien apakah dalam keadaan baik atau ada masalah.
APA SAJA YANG DILAKUKAN PADA SAAT PEMERIKSAAN FISIK :
1. ANAMNESE, Yaitu tanya jawab seputar keluhan klien, dan riwayat-riwayat penyakit klien, kebiasaaan/gaya hidup klien
2. Pemeriksaan Tanda-tanda vital
3. Pemeriksaan Fisik
4. Pemeriksaan Tambahan
Pada dasarnya pemeriksaan fisik akan meliputi:
Inspeksi: melihat adakah kelainan pada organ tubuh yang hendak diperiksa.
Palpasi: menyentuh dengan teknik tertentu untuk memeriksa adakah benjolan, tulang yang patah, atau kelainan lainnya.
Perkusi: tubuh akan mengeluarkan suara tertentu walaupun dalam kondisi normal, misalnya pada paru akan terdengar sonor karena berisi udara, dan pada lambung akan terdengar timpani karena berisi gas. Tujuan pemeriksaan ini adalah mendeteksi adakah cairan atau massa pada tubuh seseorang, contohnya jika paru-paru ketika diketuk malah terdengar redup, maka kemungkinan adanya massa pada organ tersebut.
Auskultasi: pada pemeriksaan ini dibutuhkan stetoskop untuk mendengarkan adakah kelainan pada organ, seperti pada pemeriksaan jantung, paru-paru, dan lambung.
Silahkan download powerpoint dan pelajari https://drive.google.com/file/d/14bkTOAf9wRtK0jQjtimBaG4rrJyPqYQK/view?usp=sharing
Senin, 21 September 2020
PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL
PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL
1. Pemeriksaan Tekanan Darah

2. Pemeriksaan Suhu Badan
Untuk Penjelasan Lebih Lengkap silahkah download powerpoint dan pelajari pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1W1oHfsqCtIT73UHWCqbtiBZU0Y4uX3Ia/view?usp=sharing
Selasa, 15 September 2020
IMUNISASI LANJUTAN DAN JENIS IMUNISASI LAINNYA YANG PENTING UNTUK ANAK
IMUNISASI LANJUTAN DAN JENIS IMUNISASI LAINNYA YANG PENTING UNTUK ANAK
Vaksin atau imunisai adalah cara pencegahan penyakit yang bisa menyebabkan kecacatan dengan cara membentuk kekebalan atau imunitas tubuh terhadap ancaman penyakit tertentu. Selain imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi usia 0 - 12 bulan, terdapat imunisasi lanjutan dan jenis imunisasi lainnya yang bisa diberikan kepada balita.
Apa saja yang termasuk kedalam jenis imunisasi lanjutan?
Usia 18-24 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan campak/MR
Usia 6—7 tahun: 1 dosis campak dan DT
Usia 7—11 tahun: 1 dosis Td
Apa sih imunisasi ulangan (booster) dan kegunaannya buat apa?
Imunisasi bertujuan memberikan antibodi bagi anak. Setelah imunisasi, antibodi anak akan meningkat. Tetapi suatu saat antibodi tersebut akan turun lagi, sehingga harus diberikan imunisasi ulangan (booster). Tujuannya agar antibodi akan meningkat kembali sehingga anak tidak mudah terserang penyakit.
Gimana jika saya terlambat melakukan imunisasi lanjutan atau bahkan tidak mengulang? Apakah vaksin sebelumnya menjadi sia-sia terhadap anak saya?
Imunisasi sebaiknya tetap diberikan sekalipun tidak sesuai jadwal pemberian karena artinya bayi atau anak tersebut belum mempunyai kekebalan terhadap penyakit tersebut. Tetapi, jika umurnya sudah terlewat jauh beberapa tahun, untuk beberapa penyakit tertentu mungkin menjadi kurang penting, karena kemungkinan tertular semakin kecil. Untuk itu perlu konsultasi dengan dokter untuk mengejar imunisasi yang terlewat.
Apakah dengan imunisasi lengkap (termasuk booster) anak bisa dipastikan tidak terkena virus?
Bayi atau anak yang telah diimunisasi masih dapat tertular penyakit, namun dampaknya akan jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alami tanpa imunisasi.
Kalau untuk Imunisasi tambahan apa saja?
- 2 bulan : PCV 1 (untuk mencegah meningitis, pneumonia, sepsis)
- 4 bulan : PCV 2
- 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
- 7 bulan : Influenza 2
- 12-15 bulan : PCV 4
Selain imunisasi yang termasuk dalam program imunisasi nasional dari Kementrian Kesehatan, ada pula sederet vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaitu: PCV, rotavirus, influenza, tifus, hepatitis A, varisela, HPV, Japanese encephalitis, dan dengue.penjelasan mengenai macam jenis imunisasi tambahan dan imunisasi lainnya bisa di download dipelajari pada link berikut https://drive.google.com/file/d/15UJ7hg20TRoB3544ullimKMsj14s8FQe/view?usp=sharing
Minggu, 13 September 2020
IMUNISASI DASAR PADA BAYI
IMUNISASI DASAR PADA BAYI
Imunisasi dasar yang wajib diberikan kepada bayi usia 0-12 bulan menurut anjuran pemerintah terdiri dari beberapa jenis imunisasi, diantara nya :
1. BCG mencegah penyakit TBC
2. DPT mencegah penyakit dipteri, batuk rejan, tetanus
3. POLIO mencegah penyakit polio
4. HEPATITIS B mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning)
5. CAMPAK mencegah penyakit penyakit campak
6. HiB mencegah penyakit radang selaput otak (meningitis), pneumonia, radang selaput pendengaran atau telinga
power point dapat di download pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1Gq39asokDKGxwzY87lMYSoKEPGA7qNk3/view?usp=sharing
STIMULASI, DETEKSI, INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK)
STIMULASI, DETEKSI, INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK)
Masa depan suatu bangsa tergantung pada keberhasilan anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tahun-tahun pertama kehidupan, terutama periode sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun merupakan periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Periode ini merupakan kesempatan emas sekaligus masa-masa yang rentan terhadap pengaruh negatif.
Nutrisi yang baik dan cukup, status kesehatan yang baik, pengasuhan yang benar, dan stimulasi yang tepat pada periode ini akan membantu anak untuk tumbuh sehat dan mampu mencapai kemampuan optimalnya sehingga dapat berkontribusi lebih baik dalam masyarakat.
Stimulasi yang tepat akan merangsang otak balita sehingga perkembangan kemampuan gerak, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita berlangsung optimal sesuai dengan umur anak. Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang perlu dilakukan untuk dapat mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya.
Pembahasan mata kuliah kali ini dapat di lihat pada power point berikut dan didownload pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1rFDzOJZgfJ9oskZoEpGRvTt-wY7O36Uv/view?usp=sharing
serta buku pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi, intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) yang diterbitkan oleh kemenkes dapat di download pada link berikut https://drive.google.com/file/d/1Q9-MQG0_QqAmt3L9dN1rpXTT6_pg8NV_/view?usp=sharing
Kamis, 03 September 2020
MENERAPKAN PENCEGAHAN INFEKSI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
MENERAPKAN PENCEGAHAN INFEKSI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
DALAM PAKTIK PENCEGAHAN INFEKSI PERTEMUAN INI AKAN MEMBAHAS :
1. ALAT PERLINDUNGAN DIRI
2. PROSEDUR CUCI TANGAN
3. CARA MEMAKAI ALAT PERLINDUNGAN DIRI
Alat Pelindung Diri adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD dipakai setelah usaha rekayasa ( engineering ) dari cara kerja yang aman.
A. ALAT PELINDUNG KEPALA
Berdasarkan fungsinya dapat di bagi 3 bagian :
- Topi pengaman ( Safety Helmet )
Untuk melindungi kepala dari benturan atau pukulan benda – benda.
- Topi / tudung
Untuk melindungi kepala dari api, uap – uap korosif, debu, kondisi iklim yang buruk.
- Tutup kepala
Untuk menjaga kebersihan kepala dan rambut atau mencegah lilitan rambut dari mesin.
Alat pelindung kepala ini dapat dilengkapi dengan alat pelindung diri yang lain, yaitu:
- Kaca Mata ( gogles )
- Penutup muka
- Penutup telinga
- Respirator, dll
B. ALAT PELINDUNG TELINGA
Alat pelindung telinga ada 2 jenis :
- Sumbatan telinga ( ear plug )
Sumbat telinga yang baik adalah memakai frekuensi tertentu saja. Sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya tidak terganggu.
- Tutup telinga (ear muff )
Tutup telinga jenisnya sangat beragam. Tutup telinga mempunyai daya pelindung ( Attenuasi ) berkisar antara 25 – 30 DB. Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dengan sumbat telinga, sehingga dapat mempunyai daya lindung yang lebih besar.
C. SARUNG TANGAN
Sarung tangan melindungi tangan dari bahan infeksius dan melindungi pasien dari mikroorganisme pada tangan petugas. Alat ini merupakan pembatas fisik terpenting untuk mencegah penyebaran infeksi, tetapi harus diganti setiap kontak dengan satu pasien ke pasien lainnya untuk mencegah kontaminasi silang. Umpamanya, sarung tangan pemeriksaan harus dipakai kalau menangani darah, duh tubuh, sekresi dan eksresi ( kecuali keringat ), alat atau permukaan yang terkontaminasi dan kalau menyentuh kulit nonintak atau selaput lendir.
JENIS SARUNG TANGAN
Ada 3 jenis sarung tangan :
- Sarung tangan bedah
Dipakai sewaktu melakukan tindakan invasif atau pembedahan
- Sarung tangan pemeriksaan
Dipakai untuk melindungi petugas kesehatan sewaktu melakukan pemeriksaan atau pekerjaan rutin
- Sarung tangan rumah tangga
Diapakai sewaktu memproses peralatan, menangani bahan – bahan terkontaminasi, dan sewaktu membersihkan permukaan yang terkontaminasi
Cara Penggunaan Alat Pelindung Diri
Ada berbagai pedoman terkait cara penggunaan alat perlindungan diri (APD), antara lain CDC 2014, WHO 2014, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) 2014, dan Australian NHMRC (National Health and Medical Research Council) 2010.
Berbeda dengan pedoman lainnya, menurut ECDC 2014, penggunaan APD harus ditambah dengan pemberian plester di pergelangan sarung tangan, bagian yang terbuka di sepatu boot, dan bagian tepi goggles untuk memastikan tidak ada bagian yang terbuka. WHO menyatakan bahwa penggunaan plester tidak diperlukan apabila ukuran APD sudah sesuai dan tidak ada celah antara baju pelindung dengan sarung tangan atau sepatu boot. Penggunaan plester yang terlalu banyak membuat proses pemakaian (donning) menjadi lama, sulit saat melepaskan, serta berisiko merusak sarung tangan atau baju pelindung saat melepaskan plester.[7,10,11]
Pedoman WHO 2014 menganjurkan penggunaan sarung tangan ganda ketika melakukan prosedur berisiko tinggi atau akan melakukan kontak dengan cairan tubuh pasien. Selama kontak dan melakukan prosedur pada pasien, seluruh atribut APD tidak boleh dilepas, kecuali mengganti sarung tangan bagian luar. Sarung tangan luar dapat diganti segera setelah melakukan satu prosedur medis dengan kontaminasi yang signifikan. Tenaga medis harus segera melepaskan APD di area doffing apabila terkena cairan tubuh atau darah dalam jumlah signifikan, serta bila ditemukan adanya robekan pada sarung tangan atau bagian lengan yang tidak tertutupi oleh sarung tangan.[5,7]
Teknik Penggunaan Alat Pelindung Diri
Saat melakukan prosedur pemakaian alat pelindung diri (APD), perlu ada seorang petugas terlatih yang melakukan supervisi prosedur sesuai protokol dan juga seorang asisten yang membantu memakaikan atribut tertentu. Berikut ini prosedur penggunaan (donning) APD:
- Sebelum menggunakan alat pelindung diri, petugas melepaskan seluruh perhiasan yang dikenakan termasuk jam tangan. Petugas yang berambut panjang harus mengikat rambut. Petugas yang berkacamata harus melekatkan kacamata supaya tidak jatuh
- Inspeksi kondisi alat pelindung diri, memastikan ukurannya sesuai dengan tubuh petugas dan tidak ada kerusakan pada alat
- Lakukan cuci tangan (hand hygiene)
- Kenakan sepatu Lalu, pasang boot cover, ikat tali yang melingkari boot cover. Usahakan tangan tidak menyentuh lantai. Tahap ini sebaiknya dikerjakan dalam posisi duduk
- Kenakan sarung tangan (dalam)
- Kenakan baju pelindung dan buat agar lengan baju menutupi pergelangan sarung tangan dalam. Pastikan semua bagian lengan sarung tangan masuk di bawah lengan baju pelindung. Pakaikan plester di pergelangan tangan apabila masih ada celah antara baju dengan sarung tangan
- Kenakan masker N95. Pastikan seluruh bagian tepi menyesuaikan bentuk wajah sehingga tidak ada celah.
- Kenakan hood, pastikan bagian telinga dan leher tertutup dan tidak ada rambut yang keluar. Bagian bawah hood harus menutupi kedua bahu. Asisten dapat membantu proses pemakaian
- Kenakan apron (tidak wajib) apabila menangani pasien dengan gejala muntah dan diare
- Kenakan sarung tangan luar yang biasanya memiliki pergelangan lebih panjang. Tarik bagian lengan sarung tangan hingga menutupi bagian lengan baju pelindung. Penggunaan sarung tangan yang berbeda warna dengan sarung tangan dalam dapat membantu identifikasi
- Kenakan pelindung wajah (face shield)
- Evaluasi kelengkapan dan kesesuaian penggunaan alat pelindung diri menggunakan bantuan cermin, ditambah dengan verifikasi oleh petugas donning[5,12]
Teknik Melepaskan Alat Pelindung Diri
Berdasarkan pedoman WHO, prosedur melepaskan alat pelindung diri sesuai urutan adalah sebagai berikut:
- Lakukan cuci tangan (hand hygiene) dengan tetap menggunakan sarung tangan
- Robek apron di bagian leher kemudian gulung ke bagian depan dan bawah. Hindari tangan menyentuh bagian coverall di belakang
- Lakukan cuci tangan. Cuci tangan dilakukan setiap selesai melepaskan 1 jenis atribut alat pelindung diri
- Lepaskan pelindung kepala-leher (bila hood terpisah dari baju pelindung) dengan cara menarik bagian atas penutup kepala. Bila menggunakan coverall kepala-mata kaki, buka terlebih dahulu resleting di bagian dada, kemudian lepaskan hoodie ke arah belakang secara perlahan dengan cara menggulung bagian dalam menjadi bagian luar. Hindari menyentuh bagian luar coverall
- Setelah coverall terlepas melewati bahu hingga pertengahan siku, tarik lengan perlahan agar coverall terlepas bersama dengan sarung tangan luar. Teruskan membuka dan menggulung coverall dengan tetap menggunakan sarung tangan dalam, hingga terlepas seluruhnya dari bagian kaki
- Lakukan cuci tangan kembali (terus dilakukan setiap selesai melepaskan 1 jenis atribut)
- Lepaskan pelindung mata dengan memegang tali di bagian belakang
- Lepaskan masker dengan menarik bagian tali bawah di belakang melewati kepala ke bagian depan. Dilanjutkan dengan melepaskan tali bagian atas
- Lepaskan boot cover. Lalu, lepaskan sepatu boot tanpa menyentuh dengan tangan
- Lepaskan sarung tangan dalam
- Lakukan cuci tangan di akhir prosedur




















